Kecerdasan adalah bekal paling dasar yang diberikan kepada Manusia untuk hidup.
Sayang, banyak yang tak mengelolanya dengan baik. Dengan cerdas hidup, kita bukan hanya memahami hidup, tapi juga menjadikannya sebagai mentalitas yang membuat kita kayas dalam arti sesungguhnya.
Suatu ketiuka , seorang bocah yang dibawa keseorang yang dianggap pintar meramal. ini adalah kebiasaan masyarakat setempatb, untuk melihat "masa depan" dari anak-anak, sehingga kedepan bisa mengetahuisi bocah akan menjadi apa kelak. Si peramal mengatakan hal yang sangat mengecewakan.
Si bocah disebut mempunyai garis nasip yang buruk, harus kerja keras terus. Selain itu, waktu lahirnya pun dianggap kurang menguntungkan.
Belum lagi, dari segi wajahnya. Intinya si bopcah akan menjadi orang yang sengsara, sepanjang hidupnya. Sungguh sebuah ramalan yang sangat melemahkan semangat.
Beruntung, Sang ibu yang membawa sang bocah tidak percaya begitu saja. Si ibu percaya dan yakin bahwa setiap orang mempunyai hak hidup yang lebih baik. . Si Ibu, menegaskan pada bocah tersebut, juga saudara-saudaranya bahwa sebagai manusia dan sepanjang mau berusaha, pasti ada jalan keluar disetiap permasalahan. Sang Ayahpun menguatkan, dengan mengatakan sebuah filosofi yang terus diingat si bocah, sepanjang gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar. Intinya mereka diyakinkan, bahwa sepanjang masih ada tenaga, kekuatan, kemampuan dan usaha kerja mati-matian, hasrapan untuk memperbaiki hidup akan selalu ada.
Tanpa disadari, sang bocah sedang mendapat pelajaran hidup dari kedua orang tuanya. Dukungan moral yang diberikan, membuat sang bocah bertumbuh dengan pola pikir yang positif. Pelajaran yang dibverikan sejak dini tersebut, menjadi bekal kecerdasan dalam "mengolah" hidupnya kelak. Terbukti, pola pikir, tindakan, yang dilakukan sang bocah, pelan tapi pasti, berhasil "melawan takdir" sang peramal. filosofi yang ditanamkan kedua orang tuanya, bukan hanya menguatkan tekatnya, untuk memperbaiki hidup. Namun, Lebih dari itu. Sang bovcah, berhasil mengubah semangat dan tekat menjadi pikiran dan tindakan yang cerdas. sehingga kini Ia dikenal, sebagai pengusaha dan motivator indonesia.
Hidup Bukan Sesuatu Sang Kaku...
Kisah yang dialami Sang Motivator, Andrie Wongsoadalah contoh nyata bahwa hgidup bukan sesuatu yang kaku. Hidup justru merupakan "LADANG ILMU"
yang bbisa membuat kita jadi insan yang cerdas, atau malah sebaliknya. sesuai pilihan yang kita ambil, . semua sebenarnya berada pada tangan sang pemilih. alias, orang itu sendiri yang akan menjalani pilihan-pilihan dalam hidupnya. sejalan dengan ajaran mulia dalam setiap agama, Tuhan tidak akan mengubah nasip suatu kaum tanpa kaum itu berusaha sendiri dalam mengubahnya.
Pengertian universal tersebut mengajarkan, segala yang ada didunia ini merupakan "bekal hidup" Tapi, siapa mau memaksimalkan bekal itu menjadi hal yang positif atau negatif, disinilah kecerdasan seseorang menjadi penentunya.
Itu pila yang dialami Andrie Wongso.
Mengalami pahit getir hidup yang diramal, mustahil diubah, namun Andrie memilih untuk mengubahnya. Ia memilih untuk tidak menuruti hal negatif, yang didengar dan dirasaknnya.
"Hidup itu adalah pilihan. mana yang kita pilioh, semuanya mengandung resikonya masing-masing. Tapi kalu kita cerdas memilih, dan melakukan apa yang pas untuk kita, semua dimungkinkan untuk DIUBAH!
Termasuk kondisi yang serba tak mungkin, sebelumnya." tegas Andrie.
Untuk mengubah dan memilih hal yang paling tepat, itulah, kita butuh kecerdasan hidup. Ini bukan semata Tahu apa artinya hidup, mengerti, dan memahami berbagai teori seputar hidup. Tapi, cerdas hidup lebih dari itu. Kecerdasan hidup merangkum pengertian sekaligus tindakan atas segala tindakan pilihan-pilihan yang mungkin terjadi.
"Orang yang cerdas hidup tahu persis, tak ada gagal yang final dan tak ada suskses yang terus menerus. Karena itu Ia selalu cerdas dalam mengelolah dan memilih apa yang terbaik untuk diri dan sekitarnya"
"KITA TAHU DAN SADAR, BEGITU BANYAK KARUNIA TUHAN YANG DIBERIKAN, HANYA YANG CERDASLAH YANG AKAN MENDAPAT BANYAK KEBAIKAN DAN KEBERKAHAN"
Pilihan da ditangan, memilih cerdas atau sebaliknya
Salam
Willyam
Sayang, banyak yang tak mengelolanya dengan baik. Dengan cerdas hidup, kita bukan hanya memahami hidup, tapi juga menjadikannya sebagai mentalitas yang membuat kita kayas dalam arti sesungguhnya.
Suatu ketiuka , seorang bocah yang dibawa keseorang yang dianggap pintar meramal. ini adalah kebiasaan masyarakat setempatb, untuk melihat "masa depan" dari anak-anak, sehingga kedepan bisa mengetahuisi bocah akan menjadi apa kelak. Si peramal mengatakan hal yang sangat mengecewakan.
Si bocah disebut mempunyai garis nasip yang buruk, harus kerja keras terus. Selain itu, waktu lahirnya pun dianggap kurang menguntungkan.
Belum lagi, dari segi wajahnya. Intinya si bopcah akan menjadi orang yang sengsara, sepanjang hidupnya. Sungguh sebuah ramalan yang sangat melemahkan semangat.
Beruntung, Sang ibu yang membawa sang bocah tidak percaya begitu saja. Si ibu percaya dan yakin bahwa setiap orang mempunyai hak hidup yang lebih baik. . Si Ibu, menegaskan pada bocah tersebut, juga saudara-saudaranya bahwa sebagai manusia dan sepanjang mau berusaha, pasti ada jalan keluar disetiap permasalahan. Sang Ayahpun menguatkan, dengan mengatakan sebuah filosofi yang terus diingat si bocah, sepanjang gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar. Intinya mereka diyakinkan, bahwa sepanjang masih ada tenaga, kekuatan, kemampuan dan usaha kerja mati-matian, hasrapan untuk memperbaiki hidup akan selalu ada.
Tanpa disadari, sang bocah sedang mendapat pelajaran hidup dari kedua orang tuanya. Dukungan moral yang diberikan, membuat sang bocah bertumbuh dengan pola pikir yang positif. Pelajaran yang dibverikan sejak dini tersebut, menjadi bekal kecerdasan dalam "mengolah" hidupnya kelak. Terbukti, pola pikir, tindakan, yang dilakukan sang bocah, pelan tapi pasti, berhasil "melawan takdir" sang peramal. filosofi yang ditanamkan kedua orang tuanya, bukan hanya menguatkan tekatnya, untuk memperbaiki hidup. Namun, Lebih dari itu. Sang bovcah, berhasil mengubah semangat dan tekat menjadi pikiran dan tindakan yang cerdas. sehingga kini Ia dikenal, sebagai pengusaha dan motivator indonesia.
Hidup Bukan Sesuatu Sang Kaku...
Kisah yang dialami Sang Motivator, Andrie Wongsoadalah contoh nyata bahwa hgidup bukan sesuatu yang kaku. Hidup justru merupakan "LADANG ILMU"
yang bbisa membuat kita jadi insan yang cerdas, atau malah sebaliknya. sesuai pilihan yang kita ambil, . semua sebenarnya berada pada tangan sang pemilih. alias, orang itu sendiri yang akan menjalani pilihan-pilihan dalam hidupnya. sejalan dengan ajaran mulia dalam setiap agama, Tuhan tidak akan mengubah nasip suatu kaum tanpa kaum itu berusaha sendiri dalam mengubahnya.
Pengertian universal tersebut mengajarkan, segala yang ada didunia ini merupakan "bekal hidup" Tapi, siapa mau memaksimalkan bekal itu menjadi hal yang positif atau negatif, disinilah kecerdasan seseorang menjadi penentunya.
Itu pila yang dialami Andrie Wongso.
Mengalami pahit getir hidup yang diramal, mustahil diubah, namun Andrie memilih untuk mengubahnya. Ia memilih untuk tidak menuruti hal negatif, yang didengar dan dirasaknnya.
"Hidup itu adalah pilihan. mana yang kita pilioh, semuanya mengandung resikonya masing-masing. Tapi kalu kita cerdas memilih, dan melakukan apa yang pas untuk kita, semua dimungkinkan untuk DIUBAH!
Termasuk kondisi yang serba tak mungkin, sebelumnya." tegas Andrie.
Untuk mengubah dan memilih hal yang paling tepat, itulah, kita butuh kecerdasan hidup. Ini bukan semata Tahu apa artinya hidup, mengerti, dan memahami berbagai teori seputar hidup. Tapi, cerdas hidup lebih dari itu. Kecerdasan hidup merangkum pengertian sekaligus tindakan atas segala tindakan pilihan-pilihan yang mungkin terjadi.
"Orang yang cerdas hidup tahu persis, tak ada gagal yang final dan tak ada suskses yang terus menerus. Karena itu Ia selalu cerdas dalam mengelolah dan memilih apa yang terbaik untuk diri dan sekitarnya"
"KITA TAHU DAN SADAR, BEGITU BANYAK KARUNIA TUHAN YANG DIBERIKAN, HANYA YANG CERDASLAH YANG AKAN MENDAPAT BANYAK KEBAIKAN DAN KEBERKAHAN"
Pilihan da ditangan, memilih cerdas atau sebaliknya
Salam
Willyam
Komentar